PINDAH RUMAH

June 22nd, 2007 by piung

well..cuman mau memberi pengumuman :

SECARA RESMI TERHITUNG MULAI HARI INI (JUMA’T) TANGGAL DUA PULUH DUA BULAN JUNI TAHUN DUA RIBU TUJUH, SAYA SYAIFUL SELANJUTNYA DISEBUT PIHAK PERTAMA, KARENA SATU DAN LAIN HAL, TELAH RESMI BERPINDAH LOKASI BLOG DARI SEBELUMNYA: http://piung.blogs.friendster.com/ipul/ KE BLOG BARU DI: http://love-and-trust.blogspot.com/ . ATAS PERHATIAN DAN KERJASAMANYA SELAMA INI, PIHAK PERTAMA MENGUCAPKAN BANYAK TERIMA KASIH. SEKALIGUS PIHAK PERTAMA JUGA MENGUNDANG SECARA HORMAT KEPADA SELURUH TEMAN-TEMAN DAN PENGUNJUNG BLOG INI UNTUK BERKUNJUNG KE BLOG YANG BARU SAMBIL TIDAK LUPA MENINGGALKAN PESAN.

TERIMA KASIH.

HORMAT SAYA,

SYAIFUL.

MONEY CAN’T BUY ME LOVE

June 8th, 2007 by piung

Seminggu
telah lewat dari tanggal terakhir aku mem-posting tulisan di Blog ini, selain
karena long weekend kemarin yang
lumayan menyita waktu dan tenaga, aku juga disibukkan dengan beberapa kerjaan
sampingan yang juga harus membuat aku merelakan hilangnya beberapa jam dari
waktu tidur malam aku.

 

Hari
senin lalu aku sempat membeli buku kecil berisi kumpulan 8 kisah nyata yang
dirangkum majalah INTISARI dan
diberi judul “ Titip umur di penjara
ALCATRAZ ”,
sampai sekarang aku belum sempat menamatkan buku itu, tapi ada
satu cerita yang rasanya sangat menyentuh bagi aku.

 

Kisah
ini tentang kehidupan Christina Onassis, anak dari Aristotle Onassis si raja
kapal dari Yunani. Christina lahir sebagai anak kedua dari pasangan Aristotle
Onassis dan Tina Onassis di tahun 1950. sebagai anak salah satu orang terkaya
di dunia Christina tumbuh menjadi anak yang selalu dibanjiri materi. Bisa
dibayangkan bagaimana kayanya keluarga mereka bila mengetahui boneka mainan
Christina kecil saat itu memakai baju-baju hasil rancangan Dior. Orang tua yang
sibuk dengan ambisi mengumpulkan harta, memantapkan kekuasaan dan meraih
popularitas kemudian membuat Christina dan kakaknya Alexander tumbuh sebagai
anak yang kaya materi namun miskin kasih sayang. Benar bahwa mereka sangat
terawat, berpakaian mahal, dengan segudang mainan yang mahal, namun
sesungguhnya keinginan mereka sederhana saja, ingin disayangi dan diperhatikan
orang tuanya. Sang ayah, Aristotle Onassis beranggapan bahwa dengan uangnya
yang berlimpah dia dapat “membelikan” kasih sayang buat kedua anaknya.

 

Anak-anak
keluarga Onassis kemudian tumbuh dengan sikap pemberontak dan tingkah laku yang
badung, semuanya itu mereka lakukan semata-mata hanya ingin mencari perhatian
dari orang tuanya. Christina nyaris tidak mempunyai teman, selain karena tak
ada orang yang tahan berlama-lama dengannya, diapun tidak mempercayai orang
lain dan selalu menganggap orang-orang selalu dekat dengannya hanya karena
hartanya. Harta yang berlimpah ternyata tidak mampu memberinya kasih sayang
yang didambakannya. Perselingkuhan ayah dan ibunya yang kemudian berujung pada
bencana perceraian membuat Christina makin hancur dan menangis setiap malam
selama setahun penuh.

 

Christina
sengaja mencari kesibukan dengan kegiatan sekolahnya yang berpindah-pindah pada
beberapa sekolah mahal di Amerika dan Eropa, namun semua itu tidak mampu
memuaskan dahaganya, bahkan nyaris tak ada satupun pelajaran yang mampu tinggal
di otaknya walaupun sebenarnya dia tidak bodoh. Waktu bergulir dan berbagai skandal
orang tua mereka yang sepertinya saling bersaing meraih popularitas dan menjadi
santapan pers kemudian makin membuat mentalnya terpuruk, sang kakak Alexander
lebih beruntung karena mampu mencari kesibukan dengan menggeluti hobinya di
bidang otomotip dan aeromodelling.

 

Kepahitan
hidup masih terus mengikuti Christina setelah sang ayah bersikeras menikahi
janda mendiang JFK, Jaqueline Kennedy –walaupun ditentang kedua anaknya. Christina
yang memang pada dasarnya membenci Jaqueline makin merasa dipinggirkan, pelariannya
ke beberapa laki-laki yang dinikahinya sama sekali tidak membawa hasil. Christina
mulai lari ke obat-obatan, hingga sempat masuk rumah sakit karena over dosis,
belum lagi masalah dengan berat badannya yang terus bertambah dan akungnya disikapi
dengan keranjingannya mengkomsumsi obat pelangsing.

Tahun
1973, Alexander Onassis sang putra mahkota meninggal dunia dalam sebuah
kecelakaan pesawat, Aristotle sangat tertekan, bagaimanapun Alexander adalah harapannya
dalam melanjutkan kejayaan keluarga Onassis. Sementara Christina masih ditolak
sang ayah yang masih marah dengan kelakuan Christina yang menikah dengan orang
luar Yunani tanpa seijinnya. Cerita makin mengenaskan saat sang ibu Tina
didapati meninggal dengan dugaan over dosis obat-obatan di tahun 1974, menyusul
setahun kemudian sang ayah yang meninggal karena berbagai penyakit dalam
kepedihan akibat kehilangan sang putra mahkota.

 

Sepeninggal
kedua orang tuanya dan kakak satu-satunya, Christina-yang menjadi pewaris
tunggal klan Onassis- sempat bermasalah dengan ibu tirinya, Jaqueline Kennedy Onassis
tentang pembagian harta warisan. Berkali-kali “mengganti” suami sama sekali
tidak membuat Christina tenang dan bahagia, hingga akhirnya dari perkawinannya
dengan anak seorang pengusaha farmasi dari Perancis, Thierry Roussel lahir seorang
anak perempuan yang diberi nama Athina. Christina sempat merasakan kebahagiaan,
sebagai bukti dia melimpahkan harta kepada sang anak, di usia yang ke enam
bulan Athina telah memiliki kebun binatang pribadi dan pakaiannya semua hasil
rancangan Dior.

 

Tapi
sekali lagi, kebahagiaan Christina tidak abadi. Hubungannya dengan Roussel
makin merenggang, tubuhnya makin gemuk dan terdengar kabar sang suami punya
pacar. Puncaknya di tahun 1988 saat nyawa Christina tidak tertolong lagi. Penyebab
utamanya paru-parunya berair berlebihan, diduga dia kena serangan jantung namun
karena ditemukan juga obat-obat penenang, penyelidikan masih dilanjutkan. Akhir
yang mengenaskan dari rangkaian cerita kehidupan seorang anak manusia yang
nyaris tidak pernah menemukan kebahagiaan yang sesunguhnya, selain kebahagiaan
yang semu berbalut materi.

 

Cerita
tentang Christina sungguh membuat aku miris, hidup yang terlihat sangat mampu membuat
orang lain iri karena limpahan hartanya ternyata hanya menghadirkan kebahagiaan
yang semu, yang nampak bagai fatamorgana karena susungguhnya Christina sangat
merindukan hal-hal yang sederhana dan sangat mendasar, kasih sayang.  Ternyata memang money can’t buy me love…..

ANAK-ANAK DAN PERMAINANNYA

June 6th, 2007 by piung

Dalam
rapat koordinasi hari senin kemarin, bos sempat menyinggung tentang kehidupan
masa kecilnya yang indah,sederhana dan Ndeso,
topik yang kemudian mampu menyentil memori tentang masa kecilku dan membandingkannya
dengan masa kecil anakku sekarang ini.

 

Terus
terang, masa kecilku dapat digolongkan bahagia. Hidup di lingkungan yang masih
asri membuat aku dan teman-teman bisa mencari bermacam-macam alternatif
permainan yang “alami”. Di belakang kompleks rumah kami masih tumbuh subur
pohon-pohon dan semak belukar hingga hampir mirip sebuah hutan, belum lagi
termasuk kebun-kebun mangga atau singkong milik penduduk. Kegiatan yang paling
sering kami lakukan adalah masuk hutan, manjat pohon mangga atau pohon nangka,
tapi yang paling sering adalah manjat pohon lobi karena pohonnya yang relatif
lebih pendek. Kadang bila nakal kami kumat, kami nekad menerobos pagar kawat
duri dan masuk ke kebun orang untuk hanya sekedar mengambil mangga yang lebih
manis daripada mangga-mangga liar di luar kebun. Sebagai info, kawasan tempat
kami “bergerilya” itu sekarang sudah disulap menjadi kawasan perumahan cukup
elit di kota Makassar,
yang lucunya lagi jadi tempatku mencari nafkah sekarang ini.

 

Sepulang
sekolah saat udara panas menyengat kami biasanya berlomba-lomba menceburkan
diri ke sungai yang mengalir di depan kompleks, atau kadang-kadang berjalan
agak jauh untuk bisa berenang di dekat bendungan, tidak peduli pada “ranjau”
berupa kotoran manusia yang juga banyak berlayar di sungai itu. Kadang-kadang
juga kami ikut menggembalakan kerbau milik teman di lapangan luas di kompleks
kami, lapangan yang sore harinya kemudian dipakai sebagai tempat bermain bola.
(saat ini lapangan itu “ditumbuhi” ruko-ruko).

 

Saat
hujan turun adalah saat yang paling menyenangkan untuk bermain bola, karena aku
dasarnya paling suka melakukan sliding
tackle
, dan lapangan yang licin dan becek tentunya membuat sliding tackle aku makin lancar,
walhasil aku pasti pulang dengan pakaian yang sangat kotor. Memandikan kerbau
dan sapi, mencarikan rumput dan memberi makan hewan-hewan berkaki empat itu
adalah juga merupakan momen yang tidak pernah hilang dari memori.

 

Di
musim kemarau saat angin bertiup kencang, kami suka bermain layangan, sementara
di musim hujan pilihan kami jatuh pada kegiatan berakit-rakit di sawah yang
tergenang dibelakang rumah. Saat musim tanam padi tiba, aku juga sering ikut
menanam padi di sawah milik para penduduk asli, kemudian saat padi mulai
menguning kami ikut menjaganya dari serangan burung-burung. Bercanda di dangau
sambil sesekali membunyikan “alarm” yang terbuat dari kaleng-kaleng bekas yang
dirangkai menggunakan tali. Pengalaman di dangau itu sangat berkesan bagi aku,
tidak ada makanan yang lebih menyenangkan selain makanan rumahan yang disantap
sambil diiringi angin sepoi-sepoi di dangau pinggir sawah. Sekarang sawah
itupun telah menjadi lingkungan real estate.

 

Kembali
ke tahun 2007, dengan kondisi telah dewasa, menikah dan memiliki anak usia 3
tahun. Saat ini boleh dibilang makin sulit rasanya mencari area publik yang
terbuka yang memungkinkan anak-anak bermain lepas dan dekat dengan alam. Selain
itu budaya instant juga membuat para orang tua lebih suka menghadiahkan mainan
elektronik buat anaknya semisal PS dan game-game elektronik lainnya, mainan
yang pada dasarnya kemudian membuat anak-anak jadi makin malas bersosialisasi
baik dengan teman lainnya ataupun dengan alam sekitar. Selain itu anak-anak pun
jadi malas berkreasi untuk membuat mainan sendiri, ngapain repot-repot kalau
semuanya bisa dibeli.

 

Anak-anak
sekarang-termasuk anakku-biasanya hanya punya satu tujuan di hari libur, ke
mall. Melihat Ayah dan Bundanya bersantai di pagi hari si kecil segera tahu
kalau ini hari libur, dan secara otomatis akan memaksa untuk diajak ke Mall. Hal
ini cukup merisaukan aku dan istri, karena bagaimanapun kebiasaan ke mall di
hari libur dan bermain di tempat-tempat
bermain di mall sesungguhnya menumbuhkan sifat konsumerisme. Hilang pula
kesempatan sang anak untuk dekat dan peduli pada alam sekitar, aku takut anak aku
nantinya hidup sebagai “orang kota" 
yang konsumtif dan tidak punya kepedulian pada alam.

 

Risau
dengan kemungkinan ini kamipun mencoba membuat program baru, mengenalkan alam
sekitar pada si kecil dan mencari alternatif kegiatan liburan yang berbeda.
Dimulai dari beberapa minggu yang lalu, kami meluangkan waktu mengunjungi tempat
wisata air terjun dan pantai. Si kecil sangat menikmati saat-saat kedekatannya
dengan alam itu, bermain air dengan bebas, membuat istana pasir dan belajar
berenang. Di hari-hari ke depan kami akan lebih berusaha meluangkan waktu untuk
bisa mengenalkan sikecil dengan alam dan lingkungannya. Terkadang kami juga
membiarkan si kecil bermain lumpur dan pasir di depan rumah yang kebetulan suka
tergenang air saat hujan. Memang sih banyak tetangga yang merasa kami agak aneh
dengan memberi kebebasan berkotor-kotor pada si kecil. Tapi seperti tagline iklan sebuah  sabun cuci, kami tidak takut si kecil pulang
dengan pakaian kotor, sepanjang dia belajar sesuatu dari aktifitasnya yang
dekat dengan alam.

 

Beruntung
bahwa saat ini si kecil kami masukkan di playgroup yang punya program mengenal
alam dan lingkungan sekitar. Setiap hari rabu dan jum’at anak-anak diajak
piknik ke ruang terbuka, mengenal berbagai tumbuhan dan belajar meyayanginya. Sayangnya
bahwa kota Makassar
tidak lagi punya kebun binatang, tempat yang menurut aku bisa bermakna lebih
buat anak-anak selain tempat rekreasi.

Taman terbuka yang layak buat dijadikan tempat bermain pun tergolong sangat langka, kalaupun
ada lingkungannya kadang tidak kondusif lagi buat dijadikan tempat bermain
karena kadang tidak terawat. Pernah terbayang di kepalaku, kalau aku jadi orang
super kaya dan punya tanah luas pengen rasanya aku buat menjadi taman yang
rimbun dengan berbagai arena permainan yang kreatif bagi anak-anak dan bisa
dijadikan tempat bersantai bagi para orang tua.

 

Yah,
bagaimanapun ini tugas berat para orang tua untuk lebih kreatif mencarikan
alternatif area bermain yang lebih positif, dan tentunya mampu memancing
kreatifitas, kepekaan dan kepedulian anak-anak terhadap lingkungannya.

 

PEARL JAM NITE 3

May 31st, 2007 by piung

Pj_nite_bdg_flyer 

 
                                                            poster PEARL JAM NITE 3-Courtesy of Pearl Jam Indonesia

Manusia adalah makhluk sosial, yang butuh berintreaksi, bersosialisai,
bergaul dan berbagi dengan manusia lainnya. Salah satu ajang sosialisasi yang
paling nyaman tentu saja adalah dengan berkumpul dalam satu komunitas berisi
manusia-manusia lainnya yang punya ketertarikan yang sama terhadap satu hal. Kemajuan
teknologi saat ini memungkinkan orang-orang berkumpul dalam satu komunitas di
dunia maya, sambil sesekali berkumpul dan bertemu di dunia nyata.

 

Saya sendiri sebagai manusia yang punya ketertarikan
besar pada Sepakbola dan musik -namun agak terlambat bergaul dengan dunia
maya-akhirnya bertemu teman-teman satu aliran, sama-sama suka dan jatuh cinta
pada PEARL JAM. Agak terlambat
memang, karena baru pada bulan maret tahun ini saya bisa bergabung di komunitas
Pearl Jam Indonesia, padahal
komunitas ini sendiri sudah berdiri sejak tahun 2001 dengan keanggotaan saat
ini sekitar 300 orang.

 

Saya nggak tahu berapa banyak band atau artis (utamanya
produk 90-an) yang punya milis penggemar di Indonesia dengan keanggotaan yang
besar dan aktifitas yang juga besar. Tapi yang pasti milis PEARL JAM yang saya ikuti ini sangat mampu untuk menampung
ketertarikan para penggemar band asal Seattle ini, karena lalu lintas
pertukaran info atau material sekitar Pearl
Jam
yang cukup aktif.

 

Bicara soal PEARL
JAM
, sebagian besar orang yang kenal band ini rata-rata menyangka kalau
band ini sudah almarhum atau paling tidak sudah vakum seperti nasib beberapa
pengusung Seattle Scene yang lain. Saya sendiri sebenarnya sempat hilang kontak
dengan PEARL JAM selama kurang lebih
5 tahun, sempat juga mengira PEARL JAM
udah “lewat”, makanya pas gabung di milis rada-rada surprise juga mengetahui
kalau PEARL JAM ternyata masih
eksis, masih terus giat menjalani World Tour  (yang masih saja sukses di tiap negara yang
didatanginya), dan masih tetap mengeluarkan album atau single.  Suatu hal yang luar biasa, mengingat band-band
sejenis dan seangkatan rata-rata sudah almarhum atau vakum.

 

Soal komunitas Pearl Jam Indonesia, sebagaimana jamaknya
komunitas di dunia maya, pertemuan di darat juga sering digelar, entah berupa
gathering mini yang hanya melibatkan beberapa orang dengan jenis acara dan
tempat yang dadakan, atau gathering akbar semacam Pearl Jam Nite-a tribute to Pearl Jam yang diatur secara ditel soal
tempat dan susunan acaranya . Dan tahun ini Pearl Jam nite kembali digelar untuk yang ketiga kalinya dengan
mngambil tempat di kota Bandung, salah satu kota basis fans berat Pearl Jam. Berbagai persiapan telah
dilakukan jauh-jauh hari sebelumnya, berbagai rintangan juga datang sejak
jauh-jauh hari sebelumnya, bahkan 2 hari menjelang hari H, saat berita baru
muncul tentang perubahan lokasi acara.  Apapun
itu saya melihat kesungguhan anak-anak milis untuk tetap berjalan berdampingan
mensukseskan acara gathering ini, sekaligus mempererat silaturrahmi antar
anggota. Salut buat panitia dan semua anggota milis yang telah membantu pelaksanaan
acara itu.

 

Sayangnya, walaupun gathering mini telah beberapa kali
diadakan, plus Pearl Jam nite yang
sudah akan masuk ke bilangan ke tiga, tapi saya belum pernah sekalipun ikut
serta dan berkumpul dengan sesama Jammers. Selain karena faktor keanggotaan
yang masih seumur jagung, faktor jarak Makassar-Jakarta yang lumayan menguras
kantong juga jadi salah satu alasan. Dan pagelaran Pearl Jam Nite 3 sabtu besok pun terpaksa aku lewatkan…

 

Sekarang hanya ada satu harapan dari saya, mudah-mudahan
acaranya berjalan lancar dan sukses, dan teman-teman yang datang bisa menikmati
acaranya. Mungkin suatu hari nanti saya juga bisa ikut menikmati lagu-lagu Pearl Jam bersama mereka, atau mungkin
suatu hari nanti bisa nonton Pearl Jam
rame-rame bersama mereka….Insya Allah.

Janji

May 30th, 2007 by piung

Anda
pernah berjanji ?,atau mungkin anda pernah dijanjikan sesuatu oleh seseorang ?.
Saya yakin semua orang pasti pernah berjanji dan pasti pernah dijanjikan
sesuatu oleh orang lain, tapi saya juga yakin tidak semua orang bisa menepati
janjinya dan tidak semua orang bisa mendapatkan apa yang telah dijanjikan
untuknya. Janji memang kadang menyejukkan, janji juga bisa dipakai sebagai
topeng untuk mendapatkan apa yang diinginkan, para lelaki hidung belang
biasanya memakai janji untuk menikahi pasangannya sebagai dalih untuk meminta
sesuatu, bahkan sesuatu yang belum boleh diminta sekalipun.

 

Dalam
kaitan dengan janji ini saya jadi ingat dengan slogan-slogan para calon
penguasa saat melangsungkan kampanye demi memuluskan jalan mereka ke puncak
kekuasaan. Sepertinya para kontestan berlomba-lomba mencari jargon-jargon yang
paling pas buat dijadikan janji dengan satu tujuan, mencari dukungan
sebanyak-banyaknya atau lebih kasarnya mencari “korban” yang bisa dijadikan
tangga menuju puncak kekuasaan. Sialnya lagi, kita sebagai bangsa yang sudah
cukup lama terjajah oleh bangsa lain yang berkulit lebih terang, akhirnya jadi
susah memilah mana yang sekedar janji pemanis bibir dan mana yang benar-benar
janji “asli”, sehingga pada saat penguasa yang paling mampu mengobral janji itu
naik ke puncak kekuasaan, sebagian dari kita mulai lupa dengan janji yang
pernah diucapkannya, hingga akhirnya fenomena mengobral janji demi kekuasaan
jadi barang baku dan bersifat biasa saja bagi kita semua.

 

 Beberapa bulan belakangan ini kota Makassar dan Sulawesi Selatan pada umumnya sedang ramai dengan janji-janji dari 3 pasang
kandidat calon Gubernur. Tahun ini propinsi yang diklaim sebagai gerbangnya
Indonesia Timur ini akan menggelar pemilihan langsung kepala daerah yang
pertama. Saat ini secara resmi sudah ada 3 pasang calon yang mendapat dukungan
partai dan koalisi partai untuk maju dan bersaing di Pilkada itu.

 

Dan,
sebagaimana rumus umum untuk menghadapi suatu persaingan di ajang Pilkada, para
calon pun sudah mulai jor-joran dengan janji-janji mereka. Berbagai slogan
bermunculan, Khidmat untuk rakyat, berjuang untuk rakyat, berjuang untuk
pemerintahan yang bersih, untuk rakyat yang lebih sejahtera, pendidikan dan
kesehatan gratis bagi masyarakat, pokoknya intinya berjanji untuk keadaan yang
lebih baik bagi propinsi ini jika mereka yang berhasil duduk di puncak
nantinya.

 

Salah
satu media paling efektif untuk mengobral janji tentunya adalah pemanfaatan
ruang publik, makanya jangan heran kalau sekarang kota Makassardan kota-kota lainnya di SulSel sudah
penuh dengan warna-warni spanduk,baliho atau sekedar flyer bergambar wajah sang
calon Gubernur (dan wakilnya) disertai janji-janji mereka. Hal yang wajar
menurut saya, sangat wajar malah. Namun sayangnya ada promosi yang agak kurang
tepat dari para pendukung sang calon. Beberapa pendukung (entah yang relawan
atau memang dibayar) dengan seenaknya memasang spanduk besar di ujung jalan
atau lorong dengan tulisan “ anda
memasuki kawasan pendukung XXXX ”, seolah-olah di kawasan tersebut semuanya
adalah pendukung sang calon. Psy war
yang memang mumpuni sih kalau aku bilang, Cuma sayangnya cara ini juga
berpotensi memecah persatuan kawasan bersangkutan.

 

Kalau
misalnya satu lorong itu memang benar pendukung sang calon, mungkin tidak ada
masalah, tapi kalau ternyata di lorong atau kawasan tersebut ada pendukung
calon lain, atau bahkan fanatik terhadap calon lain maka bisa dipastikan rasa
tidak suka akan muncul, syukur-syukur kalau mereka bisa tahan “dituduh”
ikut-ikutan mendukung calon yang namanya terpasang di spanduk di depan lorong
/kawasan mereka, nah kalau mereka bereaksi keras ?, bisa-bisa terjadi
perpecahan dong..

 

Ada satu
jargon dari salah satu calon yangmenurut saya cukup menyejukkan, isinya kira-kira
begini “ bila anda mendukung XXX, kita berjalan bersama, bila anda tidak
mendukung,kita berjalan beriringan “ sayangnya jargon ini hanya terlihat sesekali,
tidak dipromosikan secara besar-besaran, padahal menurut saya intinya bagus
sekali, siapapun calon anda yang penting tetap berjalan beriringan, menjaga
ketertiban dan keamanan demi kenyamanan bersama.

 

Harapan
saya (dan saya yakin semua masyarakat Sulsel) adalah semoga pilkada nanti
berjalan jujur,bersih, dan yang paling penting aman jangan sampai deh ada tindakan
anarkis dan perpecahan di antara para pendukung calon Gubernur. Dan setelah
Pilkada itu sendiri berlangsung sukses, semoga siapapun yang menang tidak
lantas lupa akan janji-janji yang sudah diobral sebelumnya…semoga..

 

 

POLIGAMI

May 28th, 2007 by piung

Polygamy


Hampir
6 bulan yang lalu kita dikejutkan oleh berita tentang seorang Da’i kondang yang
selama beberapa tahun terakhir ini namanya begitu meroket dan mampu mancuri
hati jutaan ummat. Da’i yang selalu tampil bersahaja, lemah lembut dan
menyejukkan di balik assetnya yang konon berjumlah miliaran rupiah itu. A’a
Gym, mengejutkan publik dengan pengakuannya yang telah memilih jalan menduakan
istrinya Teh Nini dengan mengambil keputusan berpoligami. Beberapa kalangan
utamanya ibu-ibu bereaksi keras terhadap pilihan beliau, sebagian besar di
antaranya memilih jalan ekstrem dengan sama sekali tidak mau mendatangi
pengajian pimpinan sang Da’i atau bahkan mendengarkan ceramah beliau.

 

Poligami
memang menjadi masalah yang sensitif bagi kaum wanita. Walaupun telah jelas
dalam Al Qur’an kalau poligami itu dibolehkan dengan syarat yang sungguh berat,
tak urung banyak wanita yang menetangnya karena dianggap telah menciderai hak
dan martabat wanita. Dan ketika poligami itu dilakukan oleh seorang public figure, tak urung berbagai reaksipun
bermunculan, dan efek dari poligami itu sendiri kkemudian dirasakan banyak
kalangan, dari yang terdekat semisal keluarga sampai lingkaran terluar yaitu
pelaku bisnis di seputar pesantren A’A Gym.

 

Sebuah film Indonesia berjudul “berbagai suami” yang mengangkat tema poligami juga menyiratkan bahwa
korban terbesar dari sebuah poligami itu selain istri pertama sebenarnya adalah
anak-anak. Kehadiran sosok seorang ayah tentu sangat dibutuhkan anak di manapun
di dunia ini, baik secara fisik maupun psikis, dan poligami sangat berpotensi
mengurangi kehadiran sosok ayah tersebut. Pembagian waktu yang adil antara
beberapa istri tentunya membuat anak-anak harus rela-suka atau tidak
suka-berbagi ayah dengan saudara-saudaranya yang lain

 

Bagi
beberapa orang pelaku poligami yang sangat paham akan konsekuensi ini, mereka
bisa menyiasatinya dengan sangat baik sehingga kualitas kebersamaan antara ayah
dan anak bisa tetap terjaga walaupun dengan kuantitas yang kurang. Tapi
sayangnya bagi banyak suami yang memilih jalan berpoligami-utamanya yang memiliki
tingkat kecerdasan dan kepekaan yang rendah, kebutuhan anak akan kasih sayang
tampaknya hanya berada di urutan kesekian alias tidak mendapat perhatian lebih.

 

Saya
sendiri menjadi saksi akan efek negatif poligami dan kurang siapnya sang pelaku
mengantisipasi masalah sosial dari poligami ini terhadap anak-anaknya. Tetangga
saya kebetulan adalah “korban” poligami. Seorang ibu dengan 3 orang anak yang
masih kecil-kecil (anak tertua baru kelas 1 SD). Sang bapak- yang entah punya
istri berapa – hanya datang sesekali menengok anak dan istrinya, itupun tanpa
menginap (dulu masih sering menginap di akhir pekan, tapi entah kenapa sekarang
sudah tidak lagi). Saya bisa melihat binar cemburu di mata anak-anak itu saat
anak saya bisa dengan bebasnya bermain bersama saya, mengadu ke saya atau saat
kami sekeluarga keluar bersama di akhir pekan.

 

Terbayang
oleh kami (saya dan istri) bagaimana repotnya sang ibu mengurus 3 orang anak
yang masih kecil-kecil itu seorang diri, ditambah lagi dengan kerjaan rumah
yang saya yakin sangat menguras tenaga. Kami sendiri yang hanya punya satu anak
kecil ditambah sederet pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, kadang-kadang
merasa sangat letih. Makanya tidak heran kami biasa mendapati sang Ibu tetangga
kami itu meluapkan kekesalannya pada anak-anaknya dengan cara yang kasar,
berteriak dan memaki. Hal-hal ini tentunya akan memberi dampak yang negatif
terhadap perkembangan psikologis sang anak nantinya, dan ini sudah mulai
kelihatan ketika sang anak juga dengan mudahnya memaki Ibunya saat marah, dan
akar utama dari ini semua adalah keputusan poligami sang bapak.

 

Menurut
saya,hal yang terpenting dalam sebuah keluarga yang terlanjur terlibat dalam
poligami adalah manajemen waktu. Bagaimana sang Bapak selaku pelaku utama bisa mensiasati
waktu yang harus terbagi itu sehingga tidak ada yang betul-betul merasa menjadi
korban. Bagaimanapun masa depan anak yang adalah hal terpenting, sehingga usaha
membiarkan anak tumbuh dalam keluarga yang utuh walaupun harus terbagi
selayaknya menjadi prioritas utama. Anak-anak terntunya memiliki kadar
ketahanan yang masih rapuh terhadap perubahan sosial di sekelilingnya bila
dibandingkan dengan orangtua. Apa yang terjadi di masa kecilnya tentu akan
sangat membekas bagi kehidupannya di masa yang akan datang.

 

Pesan
utama yang ingin saya sampaikan adalah, buat suami yang ingin memilih
berpoligami hendaklah berpikir masak-masak tentang ekses yang mungkin akan
ditimbulkannya. Islam memang membolehkan poligami-bahkan beberapa kalangan menganggapnya
sebagai syariat-namun Islam juga memberi syarat yang sangat ketat tentang
poligami ini, jadi sesungguhnya poligami bukan hanya sekadar jalan “halal”
untuk memuaskan nafsu. Bagi para suami yang telah meilih jalan poligami dan
ternyata sukses menjalaninya, membentuk keluarga yang bahagia dan berkualitas
saya hanya bisa menyatakan kekaguman, karena sepertinya hal tersebut tidak akan
bisa saya lakukan…

 

 

 

Catatan yang tersisa

May 25th, 2007 by piung


Champion_winner

final Liga Champion Eropa musim ini yang mempertemukan
AC.Milan & Liverpool baru saja digelar. AC.Milan sebagai salah satu klub
yang punya takdir dan track bagus di Liga Champion akhirnya mampu membalaskan
dendam mereka 2 tahun lalu di Istanbul dengan menggulung Liverpool 2-1.
pahlawan Milan kali ini adalah si “Super Pippo”,Filippo Inzaghi. Striker gaek
yang sebenarnya minim kualitas teknik tapi punya keunggulan dalam penempatan
posisi dan kejelian melepaskan diri dari perangkap off side. Malam itu Inzaghi
seakan-akan mengesahkan factor kelebihannya itu. Gol di babak pertama adalah
murni berbau keberuntungan, tendangan dari Pirlo yang sebenarnya menuju sisi
kiri gawang Reina sempat menyentuh badan Inzaghi dan berbelok ke arah kanan
gawang, meninggalkan Reina yang telah terlanjur melompat ke kiri. Entah ini
kali keberapa Inzaghi berada di posisi yang tepat di waktu yang tepat untuk
menciptakan gol.

 

Gol kedua “Super Pippo” malam itu dicetak memanfaatkan
kelebihannya yang lain,  melepaskan diri
dari jebakan off side. Jaap Stam, mantan bek tangguh AC.Milan,Lazio,Manchester
United dan Ajax itu sendiri pernah mengatakan betapa dia membenci Inzaghi
karena walaupun pemain ini paling sering terkena jebakan off side tapi
setidaknya dari 10 jebakan dia bisa melewati satu jebakan untuk kemudian
membuat gol. Menerima umpan cerdik dari Kaka, Inzaghi mampu melepaskan diri
dari jebakan 4 bek Liverpool, mengecoh Reina dan menceploskan bola ke gawang
kosong dengan sebuah tendangan lemah namun indah.

 

Tulisan ini sebagian besar nggak akan mengulas teknis
pertandingan, karena saya yakin sebagian besar pecinta sepakbola udah pada
nonton dan tentunya udah pada tau analisa dan review pertandingan tersebut. Tulisan
ini sebagian besarnya hanya akan memuat tentang pengalaman pribadi saya yang
kebetulan ikut menonton rame-rame bersama teman-teman.

 

Rencana nonton bareng sebenarnya udah lama dibuat. Begitu
muncul kepastian siapa yang berhak melaju ke final, saya dan beberapa teman
kantor yang sama-sama doyan sepakbola udah mulai kasak kusuk mencari tempat
strategis buat nonton bareng. Kepastian lokasi akhirnya baru keluar tepat di
hari H. Hotel Horison yang kebetulan menggelar acara nonton bareng akhirnya
jadi pilihan karena harganya yang paling murah. Luamayan, dengan hanya membayar
30 ribu perak, kami bisa nonton pake layar lebar plus makan bubur ayam dan
sarabba’ (semacam wedang jahe-khas Makassar), dan lebih lumayan lagi, semuanya
ada yang nanggung, so kita-kita cuma siapin badan aja.

 

Total peserta dari kantor yang siap ikut ada 17 orang,
sebagian berangkat barengan, sebagiannya lagi berangkat sendiri-sendiri. Pukul
11 malam saya sudah siap dengan jersey Milan bernomor punggung 3 dengan nama
“Maldini” ,idolaku. Ngumpul di tempat teman sampai pukul 12 sebelum berangkat
rame-rame ke hotel Horison. Acaranya sendiri udah mulai dari jam 11 malam,
dimulai dengan acara adu ketangkasan bermain Winning Eleven yang melibatkan 8
peserta (4 pasang). Masing-masing peserta diundi siapa yang bakal mainin
AC.Milan atau Liverpool.

 

Setiap abis satu game, acara diselingi dengan quiz
seputar kedua tim yang bertanding malam itu serta seputar liga champion itu
sendiri. Salah satu pertanyaannya adalah “berapakah usia pelatih Liverpool
Rafael Benitez tahun ini ?”. kebetulan banget malam sebelum ke tempat nobar
saya sempat baca-baca di koran perihal profil kedua pelatih, jadi tahun
kelahiran Rafa masih membekas di kepala, langsung aja saya angkat tangan dan
karena yang lain kayaknya gak ada yang tau atau lupa jadilah saya yang
ditunjuk. Jawaban benar dan bingkisan dari sponsor pun berpindah tangan ke
saya, lumayan dapat topi Extra Joss dan 2 gelas cantik..hehehe.

 

Session tanya jawab berikutnya bergulir lagi, sebagian
besar sih saya tahu jawabannya, dan sempat kena tunjuk lagi, cuman dibatalkan
sama produsernya karena katanya udah dapat hadiah. Sebenarnya saya sudah
ngomporin teman-teman yang lain buat unjuk tangan, ntar jawabannya saya yang
kasih, tapi kayaknya teman-teman nggak ada yang pede.  

 

Menjelang pertandingannya mulai penonton yang datang membludak, ruangan buat nobar
kayaknya malah jadi sesak, AC-nya jadi nggak kerasa bikin udara terasa panas,
apalagi ditambah asap rokok yang memenuhi udara. Sepanjang pertandingan
penonton yang sebagian besar pendukungnya AC Milan ribut memberi dukungan, saya
juga nggak mau ketinggalan dong apalagi aslinya emang suka teriak kalo nonton
bola. Walhasil waktu pulang tenggorokan rasanya serak sampai-sampai mau bicara
saja susah. Hal yang paling saya nikmati dari acara nonton bareng adalah
kebebasan berteriak dan melompat kegirangan, dan saat Inzaghi mencetak gol
pertamanya, ruangan kafe Malaber (tempat nobar) serasa mau pecah, seluruh
pendukung Milan berteriak berbarengan sambil jingkrak-jingkrakan nggak karuan,
asyik banget. Sementara pendukung Liverpool cuman bisa terdiam.

 

Di paruh waktu babak pertama, quiz kembali digelar, kali
ini pertanyaannya agak susah. Selain tahun ini, tahun berapakah kota Athena
pernah jadi tuan rumah final Liga Champion ?, untung di dekatku ada koran
Tribun Timur yang kebetulan ada informasi tentang Athena. Saya ngasih bocoran
ke teman yang kebetulan kena tunjuk buat menjawab, tapi sayangnya dia salah
sebut, dia bilangnya tahun 1993 soalnya saya ngasih bocorannya musim 1993-1994,
dianggap salah deh. Karena rupanya penonton yang lain nggak ada yang bisa
jawab, akhirnya saya unjuk tangan lagi dan merekapun terpaksa menunjuk saya
kembali untuk menjawab. Jawaban saya tahun 1994, di mana AC Milan juga yang
juara setelah memukul Barcelona 4-0, benar lagi dan satu paket kecil dari majalah
Soccer berisi pernak-pernik sepakbolapun berpindah tangan. Lumayan dapat emblem
AC Milan dan gantungan kunci gambar Christiano Ronaldo, cuman sayangnya dari
beberapa pernak-pernik yang saya terima ada vandel klub Chelsea dan beberapa
gantungan kunci timnas Brasil, tim yang saya nggak suka….heran deh, kok acara
final Champion antara Milan vs Liverpool hadiahnya pernak-pernik klub lain. Aku
sih curiganya hadiah itu tadinya bonus majalah Soccer yang nggak sempat terjual
yang kemudian dikumpulin buat dijadikan hadiah acara malam itu.

 

Overall acara malam itu asyik banget, saya merasa sangat
beruntung. Tim favoritku juara dan berbagai hadiah berhasil saya bawa pulang.
Tadinya saya ngincar hadiah door prize berupa tipi 14 inch, cuman sayang gak
kena,hehehe..begitu juga dengan voucher nginap gratis di Hotel Horison. Pada
pengundian tebak score, saya yang sebelumnya udah nebak score 2-1 buat Milan
nampaknya juga udah nggak beruntung. Hadiah 250 rb lebih milih jatuh orang lain
daripada saya, nggak papa lah, belum rejeki saya…

 

Oya, dari beberapa pertanyaan quiz, ada 2 pertanyaan yang
saya betul-betul blank. Yang pertama adalah presiden Liverpool, nah kalau ini
saya memang bener-bener gak tau. Yang kedua pertanyaan tentang selain
Ancelotti, siapa lagi 4 orang yang pernah menjadi pemain dan pelatih yang
berhasil menjuarai liga Champion. Saya sih cuman ingat Frank Rijkard dan Johan
Cruijff, pagi tadi saya cek yang dua lagi ternyata Giovanni Trappatoni dan
Manuel Munoz (?, lupa..yang jadi juara Champion bareng Madrid sebagai pemain
dan pelatih).

 

Overall, acaranya seru banget. Pulang ke rumah jam 5 pagi
dengan hati bahagia. Bahagia karena Milan juara, serta bahagia karena bisa
membawa pulang hadiah..hehehe..kalaupun ada yang kurang hanya karena sebelum
pertandingan dan pada paruh waktu babak pertama kita nggak sempat dikasi liat
preview dan review pertandingan, soalnya disela kegiatan quiz itu, tapi yah
sudahlah namanya juga acara yang pake sponsor…so, see you next seasons…

MAKAN MI

May 23rd, 2007 by piung

Membaca
judul di atas orang tentu akan berpikir kalau itu bermakna mengajak orang untuk
makan mie. Tapi coba ucapkan kalimat itu pada orang Sul-sel ato minimal orang
yang tau logat lokal sini, ditanggung maknanya akan lain. Penggunaan partikel MI
di belakang kata “makan” bagi orang Sul-Sel bermakna mempersilakan atau secara
kasar menyuruh, jadi makna kalimat “makan mi” bagi orang Sul-Sel kurang lebih
sama dengan “silakan makan”.

 

Logat
dalam bahasa Indonesia orang Sul-Sel memang unik, penggunaan beberapa partikel
di belakang kata-kata utama sangat memberi warna bagi bahasa itu sendiri.
Kadang-kadang partikel itu sendiri agak sulit untuk ditentukan definisi
khususnya, utamanya tentang penempatan partikel tersebut. Ambil contoh partikel
MI di atas, dalam kalimat “makan mi”, partikel MI bermakna mempersilakan, tapi
dalam kalimat lain, misalnya “ besar mi”, partikel mi berubah fungsi sebagai
penegasan kalau orang/benda yang dimaksud telah besar (dewasa). Dalam kalimat
lain, misalnya “jadi satumi” partikel MI kembali berfungsi sebagai penegasan
jika benda/orang telah menjadi satu, beda dengan kalimat lain seperti “ambil
mi” dimana MI berfungsi kembali untuk mempersilakan orang mengambil
barang/benda. Cukup membingungkan, bukan ?.

 

Padahal
itu baru satu partikel, masih banyak partikel lain yang umum digunakan dalam
bahasa Indonesia versi Sul-Sel, partikel itu adalah : PI,JI,

KI

,

MO.

Beberapa
contoh penggunaannya adalah sebagai berikut :

 

Partikel PI = “satu pi” (bermakna
menegaskan kalau subjeknya masih kurang satu lagi),contoh yang berbeda : “malam
pi” yang artinya kurang lebih “nanti malam”, biasanya dipakai untuk kalimat
seperti “malam pi ko datang” (kamu datangnya ntar malam aja).

 

 Partikel
JI
= khusus pada partikel ini, maknanya kurang lebih sama dengan
hanya,contohnya pada kalimat “satuji saya bawa” yang artinya kurang lebih “saya
cuman bawa satu” (perhatikan tatanan penempatan kalimat yang agak
berantakan..hehehe). Tapi kadang-kadang partikel ini juga bermakna menegaskan,
misalnya pada kalimat “ besarji rumahnya “ yang artinya sama dengan “ rumah
besar kok..”, wah makin bingung deh, apalagi ditambah dengan kenyataan aku
kurang bisa menjelaskan dengan kata-kata..hehehe..

 

Sebagai
info, Propinsi Sulawesi Selatan terdiri atas banyak suku yang berbeda dan
kemudian digolongkan dalam 3 kelompok suku terbesar (dulunya ada 4 sebelum suku Mandar sekarang
mayoritasnya berada dalam wilayah Sulawesi Barat). Suku-suku itu adalah :
Bugis,

Makassar

dan Toraja yang ketiganya
memiliki perbedaan mencolok dari segi bahasa daerah. Ketiga suku tersebut
kemudian terpisah lagi dalam beberapa sub-suku yang lebih kecil. Suku Bugis
misalnya, ada Bugis Bone (yg lingkup bahasa dan wilayahnya paling luas), bugis
Sinjai dan beberapa sub suku Bugis lainnya yang kadang-kadang juga punya bahasa
yang agak berbeda. Sementara suku Makassar terbagi atas beberapa sub suku yang
lebih kecil yang mempunyai logat dan bahasa yang juga berbeda, misalnya daerah
Bulukumba dan Selayar yang secara fisik dianggap suku

Makassar

namun memiliki bahasa daerah yang lumayan berbeda dengan bahasa Makassarnya
orang Gowa dan Takalar. Sebagai info lagi, sebuah kabupaten kecil sebelah utara
kota Makassar bernama Enrekang terbagi atas 3 daerah berbahasa berbeda, sebelah
selatan bahasanya mirip bahasa Bugis karena memang berbatasan langsung dengan
daerah suku Bugis, bagian tengah berbahasa daerah sendiri, sementara bagian
utara berbahasa daerah yang mirip bahasa Toraja karena memang berbatasan
langsung dengan daerah Toraja. Bisa dibayangkan bagaimana repotnya orang-orang
di Sul-Sel kalau bahasa Indonesia tidak ada.

 

Bahasa
Indonesia yang kemudian dipakai sebagai bahasa pemersatu kemudian ter-influence oleh bahasa daerah itu
sendiri. Beberapa istilah bahasa daerah kemudian ikut mewarnai penggunaan
bahasa

Indonesia

,
di antaranya ya partikel-partikel itu tadi. Celakanya peleburan bahasa daerah
ini ke dalam bahasa Indonesia juga mengacaukan susunan kalimat, merusak tatanan
MD, Subjek Objek sehingga terkadang logat Sul-Sel terdengar sangat kacau.
Dengarkan kalimat ini : “malam pi baru saya bawa bukumu nah..?”, yang dalam
bahasa Indonesia yang benar kira-kira seperti ini “ bukumu aku bawa nanti malam
saja ya ?”. kacau

kan

..?,hehehe..

 

Penggunaan
bahasa

Indonesia

logat Sul-Sel ini juga terkesan sangat menghemat penggunaan kata,walaupun ya
itu tadi,merusak tatanan bahasa yang benar. Sebagai contoh lagi : “kau mo yang
bawaki” atau sama dengan kalimat “ nanti biar kamu aja yang bawa”..cukup hemat
kan ?,belum lagi bila diucapkan terkadang ada discount lagi menjadi “ ko mo
yang bawaki “..terkesan males banget yak..?,hehehe..

Itu
baru segelintir contoh-contoh dari uniknya bahasa Indonesianya orang Sul-Sel, sangat
beragam dan kadang-kadang bagi orang luar

Sulawesi

jadi terdengar lucu. Tapi ya itulah keistimewaan

Indonesia

yang punya banyak
keanekaragaman yang meperkaya khazanah budaya kita. Jadi,bila anda berkunjung
ke Makassar jangan salah sangka bila ada orang yang berkata kepada anda “makan
mi”,jangan sampai anda mengira ditawari makan mie..hehehe..

 

Makassar

bisa tonji *

 

 

 

 

*
: Makassar juga bisa, diambil dari
judul lagu band lokal Art2Tonic, istilah ini cukup populer digunakan untuk
membangkitkan fanatisme kedaerahan anak muda

Makassar

yang belakangan mulai sering sok ngomong pakai logat Jakarte.

 

Bantimurung-Kingdom of Butterfly

May 21st, 2007 by piung

Sa400225

Momen
libur panjang selama 4 hari kemarin merupakan momen yang kami tunggu-tunggu. Sudah
cukup lama kami merencanakan untuk melancong ke luar kota. Kali ini tujuan kami
adalah Bantimurung. Obyek wisata air terjun yang tepatnya berada di kabupaten Maros,berjarak kira-kira 45 KM
sebelah utara kota Makassar.

 

Hari
kamis pagi (17 mei) berangkatlah kami bertiga dengan menunggangi motor
kesayangan. Perjalanan ke sana ternyata cukup melelahkan bagi putri kecil kami.
Sepanjang perjalanan dia yang biasanya cerewet dan ngoceh kali ini lebih banyak
diam, maklumlah ini perjalanan panjangnya yang pertama pake motor. Gawatnya
lagi setiba di kota Maros,kira-kira kurang dari 15 KM dari tujuan dia nggak
bisa nahan lagi dan…muntah !!. lumayan bikin panik dan iba, setelah mampir
sebentar di masjid buat membersihkan bekas muntahan Nadaa perjalanan kami
lanjutkan lagi, kali ini si kecil udah riang kembali, mengoceh dan mengomentari
apa yang dilihatnya sepanjang perjalanan,mungkin karena “beban”nya udah lepas..

 

Bantimurung
sendiri kalo menurutku sudah banyak perubahan, makin cantik,bersih dan terawat.
Berbagai fasilitas umum seperti WC dan tempat istirahat yang ditutupi payung
fiber didirikan dan kelihatan cukup terawat. Jalan utama dalam lokasi air
terjun yang ditutupi paving block terlihat cukup rapih, sampah-sampah tidak
terlihat bertebaran. Suatu kenyataan yang terus terang cukup melegakan buatku.
Salah satu sebabnya selain karena (mungkin) kesadaran pengunjung yang cukup
besar terhadap kebersihan juga karena di sana-sini pihak pengelola banyak
menempatkan tempat sampah berukuran cukup besar.

 

Udara
di sekitar lokasi wisata juga masih terasa sejuk. Terakhir kali berkunjung ke sana sekitar 8 tahun lalu,
aku udah agak-agak lupa apa udara sejuknya masih sama dengan waktu itu atau ada
perubahan. Tapi yang jelas, sekarang ini aku agak kesulitan menemukan kupu-kupu
yang beterbangan dengan bebas.

 

Dahulu
Bantimurung oleh orang Belanda yang menemukannya dikasih julukan “Kingdom of Butterfly”tentu saja karena
dulunya Bantimurung adalah surga bagi ratusan spesies kupu-kupu bahkan dari
spesies langka sekalipun. Sayangnya menurut laporan terakhir, spesies kupu-kupu
di Bantimurung berkurang secara signifikan setiap tahunnya. Penyebabnya
bermacam-macam, selain karena perburuan liar yang dilakukan warga sekitar demi
memuaskan mata pengunjung dan menangguk rupiah dari setiap ekor kupu-kupu yang
mereka awetkan, juga tentu saja karena terjadinya perubahan ekosistem pada habitat
asli kupu-kupu itu. Tingkat pencemaran udara yang terus meningkat tentu saja
ikut berpengaruh pada menurunnya jumlah kupu-kupu di Bantimurung, karena
seperti yang kita ketahui kupu-kupu adalah binatang yang sangat peka terhadap
perubahan udara.

 

Sa400273
Aku
agak miris juga melihat begitu bebasnya warga sekitar menangkapi kupu-kupu yang
cantik itu, membunuhnya kemudian mengawetkannya dan memamerkannya dalam bentuk
gantungan kunci ataupun hiasan dinding dengan harga berkisar Rp.5000-Rp.25.000.
Beruntung bahwa pemerintah daerah sudah berupaya menahan laju jatuhnya angka
jumlah spesies kupu-kupu akibat perburuan liar dengan melakukan pembatasan atas
perburuan kupu-kupu. Selain itu pemda setempat secara persuasif juga
menyadarkan masyarakat untuk sedapat mungkin memiliki penangkaran kupu-kupu
sendiri, sehingga diharapkan jumlah kupu-kupu akan bisa bertahan dalam jangka waktu
yang cukup lama.

 

Air
terjunnya sendiri yang merupakan objek wisata utama dari Bantimurung sepertinya
tidak banyak berubah, hanya saja hari itu arusnya cukup deras dan warna airnya
yang agak kecokelatan, mungkin karena hujan yang turun di hulu sungai.
Pohon-pohon hijau yang tumbuh di sekitar air terjun yang ditingkahi oleh
batu-batu sungai masih tetap alami seperti dulu, kalaupun ada tambahan itu
adalah arena berenang yang diperuntukkan bagi anak-anak, ya agak-agak mirip Waterboom
Park tapi dengan skala yang jauh lebih kecil. Konon renovasi dan perbaikan
areal wisata ini dulunya dibikin menyusul rencana peninjauan oleh presiden SBY
setahun atau dua tahun lalu ya..lupa, dan kalau nggak salah waktu itu SBY juga
akhirnya batal berkunjung, Yang untung ya para wisatawan, bisa menikmati
fasilitas yang lebih bagus dan memadai untuk sebuah kawasan wisata. Hmm..kayaknya
pak SBY musti sering-sering menjadwalkan rencana mengujungi tempat wisata, karena
terbukti langkah-langkah seperti ini efektif juga buat nakut-nakutin pengelola
tempat wisata biar lokasi wisata terus diperbaiki dan dibenahi..hehehe..

 

Secara
umum jalan-jalan kami kali ini cukup menyenangkan, walaupun sempat kepikiran
kalau si kecil nggak akan menikmati karena perjalanan yang lumayan jauh
ditambah dengan mabok daratnya, tapi syukurlah karena ternyata setelah insiden
muntah itu si kecil ahirnya bisa menikmati. Bahkan dia nggak bosan-bosannya
bermain di air sungai yang dingin, soalnya baru kali ini dia liat sungai
lengkap dengan aior terjun pula, katanya sih kayak di DORA..kalau nggak ingat
sama flunya yang belum sembuh betul mungkin kami akan membiarkan dia bermain
air lebih lama.

 

Lewat
jam 1 siang kami meninggalkan Bantimurung, yah terbersit harapan mudah-mudahan
kondisi tempat wisata yang cukup nyaman itu bisa bertahan lama, dan khususnya
buat kupu-kupu yang cantik itu, semoga mereka bisa kembali merasakan makna
kata-kata “Kingdom of Butterfly”,
betul-betul merasa seperti berada dalam satu kerajaan di mana merekalah yang menjadi
raja dan kita-kita manusia ini yang jadi prajurit penjaga kerajaannya..semoga..

Lagu Bermain

May 16th, 2007 by piung

Kakak
Mia,Kakak Mia

Minta
anak barang seorang

Kalau
dapat,kalau dapat

Hendak
saya suruh berdagang

Anak
yang mana akan kau pilih 2x

 

Itu
yang gemuk yang saya pilih

Bolehlah
ia berjual sirih

Sirih,sirih,siapa
beli 2x

 

 

Pernah dengar lagu di atas nggak ?,lagu itu judulnya
“Lagu Bermain” karangan Ibu Sud. Aku sendiri baru tau lagu itu dari kaset
kumpulan lagu anak-anak yang aku beli buat si kecil. Pertama kali dengar udah
langsung “tertarik” sama syairnya, awalnya aku kira aku yang salah dengar, tapi
pas aku cek teks-nya dan aku dengerin beberapa kali ternyata syairnya memang
kayak gitu.

 

sempat terjadi diskusi kecil antara aku dan istriku yang
ternyata udah tau lagu itu dari sejak kecil. Kami berdua sangat penasaran akan
makna dari lagu ciptaan Ibu Sud itu.Yang bikin kami bertanya-tanya adalah siapa
kakak Mia itu sebenarnya ?, dan apa profesinya ?. masak iya sih kakak Mia itu
pengurus panti asuhan yang kerjanya mendistribusikan anak kecil untuk
di”karya”kan.

 

Kalau misalnya lagu itu diciptakan oleh Iwan Fals atau
pencipta lagu lain yang memang doyan memasukkan unsur kritikan sosial dalam
lagunya mungkin aku akan berpikir kalau lagu itu adalah sindiran atau lelucon
pahit tentang maraknya perdagangan anak. Tapi masalahnya lagu itu ciptaan Ibu
Sud, figur yang terkenal dengan lagu anak-anak ciptaannya yang sangat populer
dan bahkan jadi semacam legenda bagi anak-anak taun 70-an sampe 90-an awal
kayaknya,entah dengan anak-anak generasi setelahnya yang justru lebih akrab
dengan lagu-lagu orang dewasa. Atau mungkin juga Ibu Sud iseng aja menciptakan
lagu itu ?-sesuai dengan judulnya “lagu Bermain”-jadi lagu itu emang dibuat
sebagai “main-main”an tanpa ada unsur apapun di dalamnya. Kembali teori ini
membuatku ragu, masak sih iseng banget beliau bikin lagu dengan syair yang
“aneh” seperti itu.

 

Atau mungkin saja saat beliau menciptakan lagu itu
perdagangan anak (yang benar-benar diperdagangkan atau sekedar disewakan) belum
semarak seperti sekarang ini, jadi isi dari lagu itu cuman sekedar dianggap
canda biasa, dianggap tidak bermakna luas selain sekedar lagu bermain untuk
anak-anak, wallahualam..